Selasa, 17 Februari 2015

Manusia Era Kekinian oleh Abang Dhio'

SUSAH. Terkadang tantangan hidup masa kini semakin menjadi ujian terberat. Kemiskinan menjadi sahabat berbagia macam penyakit, yang kaya dengan dahi mengkerut menjadi kawan terbaik berbagai masalah. Bahkan sebagian dari mereka telah dipenjarakan. Selebihnya tinggal menunggu giliran bertahta di tempat itu. Manusia mengimplementasikan berbagai bentuk beban kemanapun mereka pergi (mencari lapangan kerja, mennyekolahkan anak sampai mempersiapkan hari tua). Jangan kata di desa, kesusahan menjadi pendamping hidup yang mungkin akan selamanya, sumber daya alam yang berlimpah ruah, namun sumber daya manusia pun bertambah banyak. Sehingga kehidupan dan pencarian lapangan kerja semakin menantang. Inilah yang menjadi salah satu alasan maraknya kejahatan dan kekerasan.
Digabung menjadi satu, jadilah kehidupan berwajah serba berat di sana-sini. Tidak saja di Negara berkembang, di negara maju sekali pun tantangannya serupa. Kemajuan ekonomi Jepang yang demikian fantastis tidak bisa mengerem angka bunuh diri. Kemajuan peradaban Amerika tidak membuat negara ini berhenti menjadi konsumen obat tidur per kapita paling tinggi di dunia. Jangankan berbicara negeri Afrika seperti Botswana. Rata-rata harapan hidup hanya 30-an tahun. Orang dewasa di sana lebih dari 80 persen positif terjangkit HIV. Sehingga menimbulkan pertanyaan, "Demikian beratkah beban manusia untuk hidup?"
Dalam kumpulan artikel Gede Pramana diceritakan bahwa ada sahabat yang menghubungkan beratnya hidup manusia dengan hukum gravitasinya Newton yang berpengaruh itu. Sudah menjadi pengetahuan publik, kalau Newton menemukan hukum ini ketika duduk di bawah pohon apel, dan tiba-tiba buahnya jatuh. Sehingga Newton muda berspekulasi ketika itu, ada serangkaian hukum berat (baca: gravitasi) yang membuat semua benda jatuh ke bawah. Sahabat ini bertanya lebih dalam, "kalau gravitasi yang menarik apel jatuh ke bawah, lantas hukum apa yang membawanya naik ke puncak pohon apel?" Dengan jernih ia menyebut "The law of levitation" (hukum penguapan). Kalau gravitasi menarik apel ke bawah, penguapan menariknya ke arah atas. Dalam bahasa yang lugas sekaligus cerdas, sahabat ini mengaitkan kedua hukum fisika ini ke dalam dua hukum kehidupan: "Hate is under the law of gravity, love is under the law of levitation." Kebencian berkait erat dengan gravitasi karena mudah sekali membuat manusia hidup serba berat dan ditarik ke bawah. Cinta berkaitan dengan gerakan-gerakan ke atas. Karena hanya cinta yang membuat manusia ringan dan terbang ke atas. Sungguh sebuah bahan renungan kehidupan yang cerdas.
Kembali kepersoalan kehidupan diera kekinian yang serba susah. Sudah menjadi momentum yang tidak lepas dari benak manusia bahwa tidak ada satu pun makhluk Tuhan yang lepas dari masalah. Bahkan sebagian besar dari kita menyimpulkannya sebagai sebuah penderitaan. Sebenarnya pemicu dari penderitaan itu adalah sebuah kebencian. Yang membuat semua menjadi susah dan lebih susah lagi. Kebencian yang seolah-olah menjadi parasit bagi kehidupan. Membenci diri sendiri, membenci orang tua, suami, istri, teman, atasan kerja bahkan sebagian membenci Tuhan.
Jadi jangan heran jikan benar kemiskinan juga merambah pada senyuman, yang mudah tersinggung, yang senantiasa minta diperhatikan, keegoisan serta rasa pesimis, dan masih bisa ditambah lagi dengan yang lain. Semuanya berakar pada yang satu: kebencian! Sehingga mudah dimengerti kalau perjalanan hidup seperti buah apel, semakin tua semakin berat dan semakin ditarik ke bawah.
Dainin Katagiri dalam Returning to Silence, menyebutkan: "The final goal is that we should not be obsessed with the result, whether good, bad or neutral." Keseluruhan upaya untuk tidak terikat dengan hasil. Itulah keheningan. Sehingga yang tersisa persis seperti hukum alam: kerja, kerja dan kerja. Dalam kerja seperti ini, manusia seperti matahari. Ditunggu tidak ditunggu, besok pagi ia terbit. Ada awan tidak ada awan, matahari tetap bersinar. Disukai atau dibenci, sore hari dimana pun ia akan terbenam. Mirip dengan matahari yang tugasnya berbeda dengan awan dan bintang. Kita manusia juga serupa. Pengusaha bekerja di perusahaan, penguasa bekerja di pemerintahan, pekerja bekerja di tempat masing-masing, penulis menulis, pelukis berkarya, penyanyi bernyanyi, pengagum meditasi bermeditasi. Semuanya ada tempatnya masing-masing. Ada satu hal yang sama di antara mereka: "Menjadi semakin sempurna di jalan kerja". Soal hasil, sudah ada kekuatan amat sempurna yang sudah mengaturnya. Keinginan apalagi kebencian, hanya akan membuatnya jadi berat dan terlempar ke bawah. Seberat apapun kehidupan, sebenci apapun Anda dengan kehidupan, dia bukanlah sebuah tujuan melainkan sebuah perjalanan. Nikmatilah!
Wassalam.



Rabu, 11 Februari 2015

Karya Sastra Workshop Art 3 SAORAJA

Karya Sastra Workshop Art 3 SAORAJA

Tema: BAMBU
Karya 1
Bambu
Kulihat batang dan daunmu
Yang bergoyang-goyang
Karena ditiup angin yang sepoi-sepoi
Bambu...
Kudengar gesekan-gesekanmu
Seperti hatiku yang bergesek-gesekan
dengan hatinya saat ini
Karya 2
Bambu...
Sungguh mulia dirimu
Bambu kecil
Bambu besar
Dapat mengenyangkan diriku
Sungguh mulia dirimu
Sayur bambu mengenyangkan perutku
Batang-batang bambu mengenyangkan
sudut-sudut rumah gubukku
Terima kasih oh bambu...
Karya 3
Bambu...
Dari begitu banyak tumbuhan
Kau memberiku banyak manfaat
Tanpa kau, bangunan di muka
bumi ini takkan pernah ada
Bambu itulah kauKarya Sastra Workshop Art 3 SAORAJA

Tema: RUMPUT
Karya 4
Rumput-rumput senja Hariku
Langkahku terhenti olehmu
Helaian tubuhmu menari dalam jiwaku
Hijau warnamu lembutkan nafasku
Rumput-rumput senja hariku
Kau lebih dari mereka
Ikhlas, tabah tak pernah menangis setetespun
Kau titipkan embun yang menyapa senjaku
Rumput-rumput senja hariku
Berontak, melawan tak ikhlas...
Itu bukan kau...
Kau berikan tubuhmu sebagai tumpuan kaki kotorku
Kau berikan tubuhmu sebagai santapan ternakku
Tapi ikhlasmu melebihi segalanya
Kau membawa embun yang menyapa senjaku...
Rumput-rumput senja hariku
Kukagumi ikhlas hatimu...
Karya 5
Rumput
Engkau makhluk yang paling agung
Namun engkau pasrah diinjak-injak
Engkau tetap tumbuh
Dan tak bisa berbuat apa-apa
Karya 6
Rumput Oh ...rumput
Kau begitu sabar
Disetiap hari kau di injak
Tetapi engkau tidak pernah marah atau mengeluh
Engkau begitu mulia
Karya 7
Rumput
Kuingin sepertimu
Yang selalu tegar dan tak pernah mengeluh
Warnamu selalu mewarnai hatiku
Oh...rumput
Karya 8
Rumput mengapa engkau diam saja
ketika semua manusia menginjak dan mengacuhkanmu,
Namun engkau tidak pernah dendam.
Oh rumput...andaikan aku bisa seperti dirimu.Karya Sastra Workshop Art 3 SAORAJA

Tema BATU
Karya 9
Hay...batu
Mengapa engkau diam disaat aku bersedih di atasmu
Mengapa engaku tak bicara atau bernyanyi
agar aku terhibur gembira dan melupakan kesedihanku.
Hmm...tapi meskipun engkau berbicara atau mencoba menghiburku
Mungkin saat ini aku tetap bersedih karena hatiku kini sekeras kamu
Karya 1o
Batu...
Aku tak ingin menjadi seperti dirimu
Yang hanya  berdiam di tempat saja
Yang takkan bergeser karna engkau
benda yang mati
Karya 11
Batu
Engkau adalah benda keras
Engkau adalah benda yang tak bisa
berbuat apa-apa
Namun disaat engkau tersusun
Dengan bentuk yang indah dan kokoh
Engkau adalah pelindung kami
Karya 12
Batu...
Engkau benda keras
Begitu bergunanya dirimu di dalam kehidupan kami
Karya 13
Batu...
Setiap hariku melihatmu
ku menjumpaimu
Namun...Kau tetaplah batu
Batu...
Kau tak pernah peduli
Tak pernah menyapaku
Bahkan kau tak pernah mau mendengarku
Batu...Kau sekasar & sekeras wujudmu..Karya Sastra Workshop Art 3 SAORAJA

Tema: WAJAH
Karya 14
Oh kasih
Mengapa wajahmu slalu mengikutiku
Wajahmu yang berkilau
Wajahmu yang indah
Bagaikan bulan di malam ini
Akan tenggelam dalam samudera cintaku
Karya 15
Ketika aku nonton film horor.
Ha..Ha...Ha...Hi..Hi..Hi
Entah mengapa...
Aku teringat dengan wajahmu
Seakan engkau adalah hantu
Hantu yang selalu menghantui pikiranku
Karya 16
Wajah...!!!
Mengapa engkau begitu enak dipandang
Bagaikan bulan dan bintang yang ada di langit
Dan kenapa pula engkau membuat banyak orang tertarik melihatmu
Sampai-sampai sosok wajahmu susah untuk dilupakan
Karya 17
Oh...wajahmu...!!!
Dari kejauhan aku melihatnya
Bersinar bagai rembulan di malam hari
Membuat aku terpana melihatnya
Wajahmu membuat aku terkagum-kagum denganmu
Karena wajahmu itu mengingatkan aku dengan seseorang.
Karya 18
Wajah...
Aku sungguh bangga padamu
Meski tampilanmu biasa-biasa saja
Namun, kau telah menjadi kebanggan semua insan
Kemampuan dan kecerdasanmu berkarya

Mampu membuat mereka tersenyum.

Asal Usul Gelar Bangsawan Bugis oleh Puang Jhetto (Pujhet)

Asal Usul Gelar Bangsawan Bugis oleh Puang Jhetto (Pujhet)

Asal Usul Gelar Andi pada Bangsawan Bugis

Asal-usul gelar andi yang disematkan di depan nama bangsawan bugis memang menjadi pertanyaan banyak orang. Bermacam-macam pendapat dari para sejarawan ataupun cerita orang-orang tua dulu tentang awal mula munculnya gelar andi di dalam masyarakat bugis, namun belum ada yang dapat menunjukkan bukti atau sumber yang benar-benar dapat dijadikan rujukan mutlak.
Dari beberapa sumber yang kami dapatkan, maka dapat diuraikan secara singkat tentang penggunaan nama Andi sebagai gelar yang digunakan para bangsawan Bugis.
Sebutan “Andi” adalah sebutan alur kebangsawanan yang diwariskan hasil genetis (keturunan) Lapatau, pasca Bugis merdeka dari orang Gowa.” Andi” ini dimulai ketika 24 Januari 1713 dipakai sebagai extention untuk semua keturunan hasil perkawinan Lapatau dengan putri Raja Bone sejati, Lapatau dengan putri Raja Luwu (yang bersekutu dengan kerajaan Gowa), Lapatau dengan putri raja Wajo (yang bersekutu dengan kerajaan Gowa), Lapatau dengan putri Sultan Hasanuddin (Sombayya Gowa), Anak dan cucu Lapatau dengan putri Raja Suppa dan Tiroang. Anak dan cucu Lapatau dengan putri raja sejumlah kerajaan kecil yang berdaulat di Celebes.
Perkawinan tersebut sebagai upaya VOC untuk membangun dan mengendalikan sosiologi baru di Celebes. Dan dengan alasan ini pula maka semua bangsawan laki-laki yang potensial pasca perjanjian bungaya, yang extrim dikejar sampai ke pelosok nusantara dan yang softly diminta tinggalkan bumi sawerigading (Celebes).
Siapa yang pungkiri kalau (Alm) Jendral Muhammad Yusuf adalah bangsawan Bugis, tetapi beliau enggan memakai produk exlusivisme buatan VOC. Beliau sejatinya orang Bugis genetis sang Sawerigading. Siapa pula yang pungkiri bahwa Yusuf Kalla adalah bangsawan Bugis tetapi beliau tidak memakai gelar “Andi” karena bukan keturunan langsung Lapatau.
Dalam versi lain, walaupun kebenaraannya masih dipertanyakaan selain karena belum ditemukan catatan secara tertulis dalam “Lontara” tetapi ada baiknya juga dipaparkan sebagai salah satu referensi penggunaan nama “Andi” tersebut. Di era pemerintahan La Pawawoi Karaeng Sigeri hubungan Bone dan VOC penuh dengan ketegangan dan berakhir dengan istilah “Rompana Bone“. Dalam menghadapi Belanda dibentuklah pasukan khas yaitu pasukan “Anre Guru Ana’ Karung” yang di pimpin sendiri Petta Ponggawae. Dalam pasukan tersebut tidak di batasi hanya kepada anak-anak Arung (bangsawan) saja tetapi juga kepada anak-anak muda tanggung yang orangtuanya mempunyai kedudukan di daerah masing-masing seperti anak pabbicara’e, salewatang dan lain-lain, bahkan ada dari masyarakat to meredaka. Mereka mempunyai ilmu sebagai “Bakka Lolo dan Manu Ketti-ketti“. Anggota pasukan tersebut disapa dengan gelaran “Andi” sebagai keluarga muda angkat Raja Bone yang rela mati demi patettong’ngi alebbirenna Puanna (menegakkan kehormatan rajanya).
Menurut cerita orang-orang tua Bone, Petta Imam Poke saat menerima tamu yang mamakai gelaran “Andi” atau “Petta” dari daerah khusus Bone maka yang pertama ditanyakan “Nigatu Wija idi’ Baco/Baso? (anda keturunan siapa Baso/Baco?). Baso/Baco adalah sapaan untuk anak laki-laki. Jika mereka menjawab “Iyye, iyya atanna Petta Pole (saya adalah hambanya Petta Pole)”, maka Petta Imam Poke mengatakan “Koki tudang ana baco/baso” (duduklah disamping saya) sambil menunjukkan dekat tempat duduknya, maka nyatalah bahwa “Andi” mereka pakai memang keturunan bangsawan pattola, cera dan rajeng, tetapi kalau jawaban Petta mengatakan “oohh, enreki mai ana baco” sambil menunjukkan tempat duduk di ruang tamu maka nyatalah “Andi” mereka pakai karena geleran bagi anak ponggawa kampong (panglima) atau ana to maredeka yang pernah ikut dalam pasukan khas tersebut.
Dalam versi yang hampir sama, gelar “Andi” pertama kali digunakan oleh Raja Bone ke-30 dan ke-32 La Mappanyukki, beliau adalah Putra Raja Gowa dan Putri Raja Bone. Gelar itu disematkan didepan nama beliau pada Tahun 1930 atas Pengaruh Belanda. Gelar Andi tersebut bertujuan untuk menandai Bangsawan-bangsawan yang berada dipihak Belanda, dan ketika melihat berbagai keuntungan dan kemudahan yang diperoleh bagi Bangsawan yang memakai gelar “Andi” didepan namanya, akhirnya setahun kemudian secara serentak seluruh Raja-Raja yang berada di Sulawesi Selatan menggunakan Gelar tersebut didepan namanya masing-masing.
Kelihatannya kita harus membuka lontara antara era pemerintahan La Tenri Tatta Petta To Ri Sompa’e sampai La Mappanyukki khususnya versi Bone karena era itulah terjadi jalinan kerja sama maupun perseteruan antara Raja-Raja di celebes dengan VOC, selain itu orang yang bersangkutan menyaksikan awal penggunaan secara meluas bagi Ana’ Arung juga semakin sukar dicari alias sudah banyak yang berpulang ke Rahmatullah, salah satu pakar yang begitu arif tentang masalah ini adalah Almahrum Tau Ri Passalama’e Anre Gurutta H.A.Poke Ibni Mappabengga (Mantan imam besar mesjid Raya Bone)…
Gelar Andi, menurut Susan Millar dalam bukunya ‘Bugis Weddings’ (telah diterbitkan oleh Ininnawa berjudul (Perkawinan Bugis) disinggung bagaimana proses lahirnya gelar Andi itu. Memang, seperti yang disinggung di atas, saat itu Pemerintah Belanda di tahun 1910-1920an ingin memperbaiki hubungan dengan para bangsawan Bugis dengan membebaskan keturunan bangsawan dari kerja paksa. Saat itu muncul masalah bagaimana menentukan seorang berdarah bangsawan atau tidak. Akibatnya, berbondong-bondonglah warga mendatangi raja dan menegosiasikan diri mereka untuk diakui sebagai bangsawan, karena rumitnya proses itu maka dibuatlah sebuah gelar baru untuk menentukan kebangsawanan seseorang dengan derajat yang lebih rendah. di pakailah kata Andi untuk menunjukkan kebangsawanan seseorang dalam bentuk sertifikat (mungkin sejenis sertifikat yang menunjukkan bahwa yang bersangkutan telah lulus dalam kursus montir mobil atau sejenisnya).
Penggunaan Andi saat itu juga beragam di setiap kerajaan. Soppeng misalnya hanya menetapkan bahwa gelar Andi adalah bangsawan pada derajat keturunan ketiga, sementara Wajo dan Bone hingga keturunan ketujuh.
Dari sumber berikutnya dapat kami uraikan sebagai berikut. Gelar Kebangsawanan “Datu” adalah gelar yang sudah ada sejak adanya kerajaan Bugis, di Luwu misalnya, semua raja bergelar Datu, dan Datu yang berprestasi bergelar Pajung, jadi tidak semua yang bergelar Datu disebung Pajung. Sama halnya di Bone, semua raja bergelar Arung, tapi tidak semua Arung bergelar Mangkau, hanya arung yang berprestasi bergelar Mangkau. Begitu juga di Makassar atau Gowa, semua bangsawan atau raja-raja bergelar Karaeng, hanya yang menjadi raja di Gowa yang bergelar Sombaiya.

Gelar kebangsawanan lainnya, mengikut kepada pemerintahan atau panggaderen di bawahnya, seperti Sulewatang, Arung, Petta, dan lain-lain. Jadi gelar itu mengikut terhadap jabatan yang didudukinya. Sementara untuk keturunannya yang membuktikan sebagai keturunan bangsawan, di Makassar dipanggil Karaeng. sedang di Bugis dipanggil Puang, dan di Luwu dipanggil Opu.
Adapun gelar Andi, pertama-tama yang menggunakannya adalah Andi Mattalatta untuk membedakan antara pelajar dari turunan bangsawan dan rakyat biasa. Dan gelar Andi inilah yang diikuti oleh turunan bangsawan Luwu, dan Makassar. Jadi di zaman Andi Mattalattalah gelar ini muncul.

Puisi Ratapan Anak Panrita Kitta

RATAPAN ANAK PANRITA KITTA
cipt.  Aruel Sederhana
Masse nyawaku melihat linoku terluka oleh mereka
Masse nyawaku melihat linoku tak mampu tersenyum oleh mereka
Mereka, mereka.., yah mereka....
Mereka yang mengaku cinta pada negeriku
Mereka yang mengaku cinta pada kotaku
Tapi kenyataan pahit yang aku dapatkan dari mereka
yang memerkosa bagian hidupmu
yang menjilat keperawananmu dengan lidah bengis 
Katanya akan menjaga, melindungi bahkan membangun
Nyatanya hanyalah menghancurkan,melukai, 
Ampe gaunna bagai boneka kepalsuan yang bersolek cantik di tengah lesung pipi kedamaian
Tingkah laku mereka bagai jarang lotong yang berlari di lintasan pertempuran penuh kedustaan
Dimana ? dimana ampe madeceng yang dibawa andi karaeng petta puangku dulu
Dan sikap sipakatau sipakalebbi sipakainge yang menyatukan kita dulu
Apa semuanya hanyalah leppa-lepaangeng saja
Masirikka...., masirikka mitai lino panrita kittaku yang sekarang
Ketika badik sudah tercabut dari sarungnya
Dan teriakan-teriakan te’mpo telah mentradisi di panrita kittaku
Dimana ?? dimana dara selessureng yang kita tanamkan dulu,
Andi karaeng petta puangku akan bersedih bersamaku 
Ketika melihat idi, fada idi sianre sipallokoang tanpa belas kasihan
Bukan saatnya begitu kawan, 
Fada sipadecengiki...., fadecengi kampongta
Fadecengi linotaaa...
Sadarlah saudaraku
sadarkan hati dan jiwamu, ini bukan lagi saatnya untuk diam
atau sekedar menatap senja yang menari bersama modernisasi 
menatap kehidupan sang bintang malam yang sebentar lagi akan sembunyi ketika mentari telah menghampiri hari
menatap kesedihan sembunyi dalam pelipur laramu saudara
bangkitlah wahai saudara...
saatnya kita megusir mereka yang memberi janji kepalsuan pada bumi panrita kitta
saatnya kita melenyapkan mereka yang hanya perusak tidur malammu

bumi panrita kittaku ini selessureng
membutuhkan kedamaian, kenyamanan dan ketulusan cinta
tania janji tak berbukti, tania ada-ada pa’belleng saja
tapi pengabdian yang akan membuat bumi panrita kitta tersenyum
tersenyum bahagia bersama kita selessureng sikampongku

Kumpulan Sajak Abang Dhio'

AJARI CARA BERMIMPI
sungguh aku merasa heran, mengapa
selalu saja kau bertanya tentang
bagaimana cara bermimpi yang indah
dan sudah berulangkali kukatakan,
masuklah ke dalam mimpiku
lalu menjelmalah apa saja yang kau suka
tetapi selalu saja kau menjelma
seorang lelaki tua di tepi jalan
seorang anak yang berlari dalam hujan
sambil menadahkan tangan
kau selalu juga bertanya dengan lugunya
siapa anak itu dan siapa lelaki tua itu
padahal kau sedang berada dalam mimpiku
bagaimana aku katakan kalau itu
adalah sebagian impian masa laluku?
kau pasti tidak akan pernah percaya
dan kau pasti katakah, toh itu hanya mimpi
tetapi diam-diam kau mencurinya
lalu kau menidurinya menjadi bunga mimpi
(diam-diam, aku pun memetiknya
sebelum kau terjaga....)

SAATNYA
saatnya berkumur dan sikat gigi
meskipun tak punya mulut
saatnya mencuci muka
meskipun tak punya wajah
saatnya mungkin tersenyum
meskipun tanpa bibir
saatnya mungkin berbicara
meskipun tanpa kata diucapkan
saatnya mungkin berpaling
meskipun tanpa punggung
saatnya mungkin melangkah
meskipun tanpa kaki
saatnya mungkin melupakan
meksipun tak ada yang diingatkan
saatnya mungkin bekerja
meskipun tak ada yang dikerjakan
saatnya mungkin untuk
mencoba semua kemungkinan
menjadi sebuah kepastian

TELAH KUCIPTAKAN
telah kuciptakan sungai
tapi kau tak mengalir
bahkan kau membuat bendungan
telah kuciptakan lautan
tapi kau tak berlayar
menuju kebebasan
tapi kau tambatkan
di sebuah dermaga
telah kuciptakan gunung
kau tak pernah mendaki
karena kau memilih
jalan pulang ke rumah
telah kuciptakan harapan
tapi kau memilih
keputus asaan dari
setiap kesempatan
telah kuciptakan kasih
tapi kau memilih benci
hanya karena kedengkian
telah kuciptakan ketiadaan
dan kau pun menghilang

BAGAIMANA MUNGKIN
bagaimana mungkin kau membakar matahari
menggarami lautan hanya dengan penyasalan
bagaimana mungkin kau dapat menegakkan
benang yang basah hanya dengan airmata
bagaimana mungkin kau dapat memahami puisi
jika kau tak pernah membaca dan menuliskannya
bagaimana mungkin kau dapat membencinya
jika kau ternyata begitu sangat mencintainya
bagaimana mungkin kau dapat mengatakan sejujurnya
jika kau ternyata selalu saja berdusta
bagaimana mungkin kau sangat mengenalku
jika ternyata kita tidak pernah bertemu
dan kau pun menjawab semua mungkin jika yakin
sementara kau sendiri tak pernah meyakininya

SISA SEPOTONG MIMPI
sisakanlah sepotong malam untukku
sekedar untuk bermimpi
jika kelak aku terjaga sebelum tidur
jangan kau bertanya
apakah aku sedang bermimpi
kalaupun kau masih juga ragu
masuklah ke dalam mimpiku
lalu ceritakanlah padaku
hingga aku dapat tidur dalam mimpiku
dan sisa sepotong malam
akan kuberikan juga untukmu
agar kau juga dapat bermimpi sepertiku.


AKU INGIN PULANG...
Mata ini mulai sembab oleh hujan...
Lalu kelam melayang-layang dihidungku
Jelas terlihat pucatnya tertunduk penuh ratap
Lalu hitam kembali menyeret ku
Tuhan...
Aku tahu
Setan menari-nari dipangkuanku, itu dulu
Tertawa berapi-api, lalu menghina-Mu, itu dulu
Makin dalam aku tertunduk malu
Makin berat Setan di tengkuk ku
Dustanya menjilati kuping ini
Lalu aku dibenamkannya dalam dosa
Tuhan
Aku ingin pulang...
Sudikah Engkau buka pintu dan jendela
Beri aku secuil udara
Karena setan itu menjerat ku dengan erat
Tuhan
Aku ingin pulang...
Lagi...
Malu menghampiri
Lagi...
Tertunduk lebih dalam lagi
Seberapa pantas aku menatap-Mu ?
dosa ini membenamkanku
Seberapa pantas aku menaruh harap ?
Sebab hitam sudah mengkarat
Tak perlulah Kau gelar karpet merah
Karena aku terlalu payah
Bukan bingkai kaca yang aku minta
Karena kembali pulang pada-Mu itu yang sangat berharga
Tuhan
Aku ingin pulang...
01:55 AM
"Berusaha menggali sisa-sisa putih dalam pekatnya hitamku"


TERMAKAN SENJA (!)

Duduk terpaku menatap tetesan air hujan
tanpa suara kamu minta pamit
yah, senja itu...
dikala tak ada yang perlu dibahas lagi
tak ada yang perlu didengar lagi
kecuali tetesanNya
yang akan menyisahkan sebaris luka
yang tergores dari hati sampai pada airmata.
Jangankan maaf
senyum pun takkan ku beri
karena kamu yang meminta
agar aku duduk tenang di sini
di jendela kaca ini
dan sebelum gelap menyertaiku
ingin kuukir sebuah nama yang meninggalkanku
dan biarkan dia termakan bersama hilangnya senja
sore itu (!)...

Puisi Catatan Diakhir Kisah

Catatan Diakhir Kisah
cipt. Abang Dhio’

Biarkan tangan lemah ini
Mengusap air mata di pipimu
Ketika tidak ada lagi
Yang mampu menemanimu

Biarkan bahu yang lemah ini
Menyandarkan tubuh mungilmu
Ketika tidak ada lagi
Tempat untuk menyandarkanmu

Mata ini yang akan selalu memahamimu
Bibir ini yang akan selalu menyebut namamu
Kaki ini yang akan menuntunmu
Berlari dari pahitnya cinta

Karena kelemahanmu adalah deritaku
Karena kesedihanmu juga air mataku
Izinkan kugenggam tangan itu
Dan kulukiskan tirai kehidupan
Yang akan kau buka dan lihat
Ada kisah yang lebih indah
Disetiap sela mata berkedip

Puisi MerindukanMu

MerindukanMu
cipt. Abang Dhio’

Bukan kepalsuan yang kumau
Bukan Kesemuan yang kubutuhkan
Hanya sebagai tempat
Yang bisa terima hinanya aku

Kutemukan itu di sisiMu
Terlihat dalam Agung namaMu
Tempat terindah yang hanya MilikMu
Tempat termewah yang hanya di sisiMu

Tempat yang bisa terima kotornya aku
Yang member bahagia dan ketenangan
Sungguh kepalsuan tiada padaNya
Kesemuan pun mustahil bersemayam di altar suciNya

Wahai dzat penggenggam jiwa
Jiwa yang hidup dan mereka yang telah mati
Merindumu dalam segala taubatKu

Berharap diterima di tempat yang hanya milikMu