Kamis, 05 Februari 2015

Puisi Bangku Tua

BANGKU TUA
cipt. Abang Dhio'

Ada sesuatu yang terasa hampa
Saat langit-langit semakin menua
Ada sesuatu yang terasa hampa
Saat hujan-hujan tertahan diantara cinta dan cerita
Berlari menelusuri mimpi yang tak kunjung menepi 
Atau haruskah aku berdiri di sini?
Mengeja bait pelangi yang hampir mati
Ataukah di penghujung hari 
Ketika senja berlalu dan pergi
Ketika hati ini terhenti bernyanyi
Aku ingin kau kembali
Di sini, sekali lagi
Aku meridu dalam keraguan 
Aku menanti dalam keresahan
Mungkinkah engkau akan kembali?
Akankah kau akan sama seperti dahulu?
Di sini di bangku tua ini menyusun kenangan kita
Ada kisah yang tak bisa ku buang 
Di mana aku dan kamu pernah mengikat janji 
Di saat cinta yang Indah kita berpadu

Engkau tidak sendiri perempuan!
Hanya saja aku sulit mengartikan rasa ini
Padahal terlihat jelas di mataku 
Pikiranku berkata "Ya"
Hatiku berkata "Tidak"
Hingga saat semua terlukis jelas dihadapanku 
Kau tebarkan beribu kata-kata indah
Untuk dia dia dan mereka
Mungkin aku adalah salah satu korban cintamu
Yang tak mudah untuk menghapus semua memori tentangmu
Engkau benar-benar sang penakluk hati, aku mengaku kalah
Atau semua yang kuberi
Bunga,kado,puisi
Semuanya terangkai di bangku tua itu 
Saat aku terbuai dan terluka

Siapa yang membuatmu terluka?
Ingatkah engkau di bangku tua taman bunga ini?
Di sinilah kita berjumpa
Aku masih ingat saat engkau menghapus air mataku 
Dan aku menyandarkan tubuhku di bahumu
Engkau mengubah tangisku menjadi tawa
Engkau mengubah sedihku menjadi bahagia
Tidakkah kau ingat itu?
Atau engkau hanya menumpang memberi harapan!
Andai kau lihat aku saat ini
Tak seorang pun yang peduli 
Tak seorang pun yang mengerti 
Tidakk juga kau!

Aku?
Engkau bilang aku yang tidak peduli?
Engkau bilang aku yang tidak mengerti?
Engkau salah besar perempuan
Aku yang hadir membawa warna baru
Aku yang mengobati lukamu tentang masa lalu jauh lebih baik dari kehidupanmu yang lalu
Engkau wanita sederhana yang mampu memberikan cinta yang luar biasa
Cinta yang tak mampu diungkapkan oleh kata-kata
Mendengar apa yang tidak dikatakan 
Mengerti apa yang tidak dijelaskan
Mengerti...

Cukup 

Diam

Kamu yang harus diam! 
Cinta tulus dan juga pengajaran tentang berbagai berbagai hal yang engkau berikan
Engkau telah mengajarkan arti menghargai, menerima, bersyukur dan ikhlas
Kini kumampu berdiri sendiri dengan tenang 
Melewati semua permasalahan pribadi
Dan kini aku telah mengerti
Apa itu hidup dan juga cinta sejati
Berharap setiap mimpi akan menjadi nyata 
Hidup bahagia bersama selamanya
Semoga rasa antara kita takkan pernah pudar bersama waktu
Hingga tiada celah bagi cinta yang lainnya
Terimakasih kuucap untuk kesekian kalinya 
Atas kesetiaanmu menemaniku menghiasi mimpi
Sampai aku terbangun kembali dan menyadari
Bahwa banyak nikmat Tuhan yang patut disyukuri
Ku ingatkan padamu simpan rapat rahasia yang pernah kubisikkan malam itu
Malam indah yang sinarmu begitu sempurna
Cerita kita takkan pernah berakhir di bangku tua itu
Hingga kelak anak-anak kita akan membacanya

Tidak...!
Wahai perempuan! Tetaplah bercerita di bangku ini
Tentang masa yang mengingatkanmu padaku
Aku marah pada sepicik ingin tersembunyimu
Aku kecewa aroma parfum dan tebal gincumu
Aku mengira hati tak bisa terbeli
Aku menyangka cinta sehidup semati
Jika ikhlas yang kau harap adalah perpisahan 
Jika tulus yang kau maksud adalah kepergian
Aku menyesal telah sepenuh hati mencintaimu
Khianat merampas nurani!
Pergilah, jangan kau bawa kenangan atas semua cintaku
Enyah dan bawalah semua sangka pada cita rombengmu
Biar sendiriku memahami arti cinta sebentarmu
Sekarang pun aku telah sampai di ujung penantianku di bangku tua ini
Ingin kudekap bayangmu terakhir kali
Sekalian kuungkap rahasia malam itu
Aku benci cintamu
Aku benci mengenalmu
Aku benci Bangku tua ini



Tidak ada komentar:

Posting Komentar