Selasa, 17 Februari 2015

Manusia Era Kekinian oleh Abang Dhio'

SUSAH. Terkadang tantangan hidup masa kini semakin menjadi ujian terberat. Kemiskinan menjadi sahabat berbagia macam penyakit, yang kaya dengan dahi mengkerut menjadi kawan terbaik berbagai masalah. Bahkan sebagian dari mereka telah dipenjarakan. Selebihnya tinggal menunggu giliran bertahta di tempat itu. Manusia mengimplementasikan berbagai bentuk beban kemanapun mereka pergi (mencari lapangan kerja, mennyekolahkan anak sampai mempersiapkan hari tua). Jangan kata di desa, kesusahan menjadi pendamping hidup yang mungkin akan selamanya, sumber daya alam yang berlimpah ruah, namun sumber daya manusia pun bertambah banyak. Sehingga kehidupan dan pencarian lapangan kerja semakin menantang. Inilah yang menjadi salah satu alasan maraknya kejahatan dan kekerasan.
Digabung menjadi satu, jadilah kehidupan berwajah serba berat di sana-sini. Tidak saja di Negara berkembang, di negara maju sekali pun tantangannya serupa. Kemajuan ekonomi Jepang yang demikian fantastis tidak bisa mengerem angka bunuh diri. Kemajuan peradaban Amerika tidak membuat negara ini berhenti menjadi konsumen obat tidur per kapita paling tinggi di dunia. Jangankan berbicara negeri Afrika seperti Botswana. Rata-rata harapan hidup hanya 30-an tahun. Orang dewasa di sana lebih dari 80 persen positif terjangkit HIV. Sehingga menimbulkan pertanyaan, "Demikian beratkah beban manusia untuk hidup?"
Dalam kumpulan artikel Gede Pramana diceritakan bahwa ada sahabat yang menghubungkan beratnya hidup manusia dengan hukum gravitasinya Newton yang berpengaruh itu. Sudah menjadi pengetahuan publik, kalau Newton menemukan hukum ini ketika duduk di bawah pohon apel, dan tiba-tiba buahnya jatuh. Sehingga Newton muda berspekulasi ketika itu, ada serangkaian hukum berat (baca: gravitasi) yang membuat semua benda jatuh ke bawah. Sahabat ini bertanya lebih dalam, "kalau gravitasi yang menarik apel jatuh ke bawah, lantas hukum apa yang membawanya naik ke puncak pohon apel?" Dengan jernih ia menyebut "The law of levitation" (hukum penguapan). Kalau gravitasi menarik apel ke bawah, penguapan menariknya ke arah atas. Dalam bahasa yang lugas sekaligus cerdas, sahabat ini mengaitkan kedua hukum fisika ini ke dalam dua hukum kehidupan: "Hate is under the law of gravity, love is under the law of levitation." Kebencian berkait erat dengan gravitasi karena mudah sekali membuat manusia hidup serba berat dan ditarik ke bawah. Cinta berkaitan dengan gerakan-gerakan ke atas. Karena hanya cinta yang membuat manusia ringan dan terbang ke atas. Sungguh sebuah bahan renungan kehidupan yang cerdas.
Kembali kepersoalan kehidupan diera kekinian yang serba susah. Sudah menjadi momentum yang tidak lepas dari benak manusia bahwa tidak ada satu pun makhluk Tuhan yang lepas dari masalah. Bahkan sebagian besar dari kita menyimpulkannya sebagai sebuah penderitaan. Sebenarnya pemicu dari penderitaan itu adalah sebuah kebencian. Yang membuat semua menjadi susah dan lebih susah lagi. Kebencian yang seolah-olah menjadi parasit bagi kehidupan. Membenci diri sendiri, membenci orang tua, suami, istri, teman, atasan kerja bahkan sebagian membenci Tuhan.
Jadi jangan heran jikan benar kemiskinan juga merambah pada senyuman, yang mudah tersinggung, yang senantiasa minta diperhatikan, keegoisan serta rasa pesimis, dan masih bisa ditambah lagi dengan yang lain. Semuanya berakar pada yang satu: kebencian! Sehingga mudah dimengerti kalau perjalanan hidup seperti buah apel, semakin tua semakin berat dan semakin ditarik ke bawah.
Dainin Katagiri dalam Returning to Silence, menyebutkan: "The final goal is that we should not be obsessed with the result, whether good, bad or neutral." Keseluruhan upaya untuk tidak terikat dengan hasil. Itulah keheningan. Sehingga yang tersisa persis seperti hukum alam: kerja, kerja dan kerja. Dalam kerja seperti ini, manusia seperti matahari. Ditunggu tidak ditunggu, besok pagi ia terbit. Ada awan tidak ada awan, matahari tetap bersinar. Disukai atau dibenci, sore hari dimana pun ia akan terbenam. Mirip dengan matahari yang tugasnya berbeda dengan awan dan bintang. Kita manusia juga serupa. Pengusaha bekerja di perusahaan, penguasa bekerja di pemerintahan, pekerja bekerja di tempat masing-masing, penulis menulis, pelukis berkarya, penyanyi bernyanyi, pengagum meditasi bermeditasi. Semuanya ada tempatnya masing-masing. Ada satu hal yang sama di antara mereka: "Menjadi semakin sempurna di jalan kerja". Soal hasil, sudah ada kekuatan amat sempurna yang sudah mengaturnya. Keinginan apalagi kebencian, hanya akan membuatnya jadi berat dan terlempar ke bawah. Seberat apapun kehidupan, sebenci apapun Anda dengan kehidupan, dia bukanlah sebuah tujuan melainkan sebuah perjalanan. Nikmatilah!
Wassalam.



Rabu, 11 Februari 2015

Karya Sastra Workshop Art 3 SAORAJA

Karya Sastra Workshop Art 3 SAORAJA

Tema: BAMBU
Karya 1
Bambu
Kulihat batang dan daunmu
Yang bergoyang-goyang
Karena ditiup angin yang sepoi-sepoi
Bambu...
Kudengar gesekan-gesekanmu
Seperti hatiku yang bergesek-gesekan
dengan hatinya saat ini
Karya 2
Bambu...
Sungguh mulia dirimu
Bambu kecil
Bambu besar
Dapat mengenyangkan diriku
Sungguh mulia dirimu
Sayur bambu mengenyangkan perutku
Batang-batang bambu mengenyangkan
sudut-sudut rumah gubukku
Terima kasih oh bambu...
Karya 3
Bambu...
Dari begitu banyak tumbuhan
Kau memberiku banyak manfaat
Tanpa kau, bangunan di muka
bumi ini takkan pernah ada
Bambu itulah kauKarya Sastra Workshop Art 3 SAORAJA

Tema: RUMPUT
Karya 4
Rumput-rumput senja Hariku
Langkahku terhenti olehmu
Helaian tubuhmu menari dalam jiwaku
Hijau warnamu lembutkan nafasku
Rumput-rumput senja hariku
Kau lebih dari mereka
Ikhlas, tabah tak pernah menangis setetespun
Kau titipkan embun yang menyapa senjaku
Rumput-rumput senja hariku
Berontak, melawan tak ikhlas...
Itu bukan kau...
Kau berikan tubuhmu sebagai tumpuan kaki kotorku
Kau berikan tubuhmu sebagai santapan ternakku
Tapi ikhlasmu melebihi segalanya
Kau membawa embun yang menyapa senjaku...
Rumput-rumput senja hariku
Kukagumi ikhlas hatimu...
Karya 5
Rumput
Engkau makhluk yang paling agung
Namun engkau pasrah diinjak-injak
Engkau tetap tumbuh
Dan tak bisa berbuat apa-apa
Karya 6
Rumput Oh ...rumput
Kau begitu sabar
Disetiap hari kau di injak
Tetapi engkau tidak pernah marah atau mengeluh
Engkau begitu mulia
Karya 7
Rumput
Kuingin sepertimu
Yang selalu tegar dan tak pernah mengeluh
Warnamu selalu mewarnai hatiku
Oh...rumput
Karya 8
Rumput mengapa engkau diam saja
ketika semua manusia menginjak dan mengacuhkanmu,
Namun engkau tidak pernah dendam.
Oh rumput...andaikan aku bisa seperti dirimu.Karya Sastra Workshop Art 3 SAORAJA

Tema BATU
Karya 9
Hay...batu
Mengapa engkau diam disaat aku bersedih di atasmu
Mengapa engaku tak bicara atau bernyanyi
agar aku terhibur gembira dan melupakan kesedihanku.
Hmm...tapi meskipun engkau berbicara atau mencoba menghiburku
Mungkin saat ini aku tetap bersedih karena hatiku kini sekeras kamu
Karya 1o
Batu...
Aku tak ingin menjadi seperti dirimu
Yang hanya  berdiam di tempat saja
Yang takkan bergeser karna engkau
benda yang mati
Karya 11
Batu
Engkau adalah benda keras
Engkau adalah benda yang tak bisa
berbuat apa-apa
Namun disaat engkau tersusun
Dengan bentuk yang indah dan kokoh
Engkau adalah pelindung kami
Karya 12
Batu...
Engkau benda keras
Begitu bergunanya dirimu di dalam kehidupan kami
Karya 13
Batu...
Setiap hariku melihatmu
ku menjumpaimu
Namun...Kau tetaplah batu
Batu...
Kau tak pernah peduli
Tak pernah menyapaku
Bahkan kau tak pernah mau mendengarku
Batu...Kau sekasar & sekeras wujudmu..Karya Sastra Workshop Art 3 SAORAJA

Tema: WAJAH
Karya 14
Oh kasih
Mengapa wajahmu slalu mengikutiku
Wajahmu yang berkilau
Wajahmu yang indah
Bagaikan bulan di malam ini
Akan tenggelam dalam samudera cintaku
Karya 15
Ketika aku nonton film horor.
Ha..Ha...Ha...Hi..Hi..Hi
Entah mengapa...
Aku teringat dengan wajahmu
Seakan engkau adalah hantu
Hantu yang selalu menghantui pikiranku
Karya 16
Wajah...!!!
Mengapa engkau begitu enak dipandang
Bagaikan bulan dan bintang yang ada di langit
Dan kenapa pula engkau membuat banyak orang tertarik melihatmu
Sampai-sampai sosok wajahmu susah untuk dilupakan
Karya 17
Oh...wajahmu...!!!
Dari kejauhan aku melihatnya
Bersinar bagai rembulan di malam hari
Membuat aku terpana melihatnya
Wajahmu membuat aku terkagum-kagum denganmu
Karena wajahmu itu mengingatkan aku dengan seseorang.
Karya 18
Wajah...
Aku sungguh bangga padamu
Meski tampilanmu biasa-biasa saja
Namun, kau telah menjadi kebanggan semua insan
Kemampuan dan kecerdasanmu berkarya

Mampu membuat mereka tersenyum.

Asal Usul Gelar Bangsawan Bugis oleh Puang Jhetto (Pujhet)

Asal Usul Gelar Bangsawan Bugis oleh Puang Jhetto (Pujhet)

Asal Usul Gelar Andi pada Bangsawan Bugis

Asal-usul gelar andi yang disematkan di depan nama bangsawan bugis memang menjadi pertanyaan banyak orang. Bermacam-macam pendapat dari para sejarawan ataupun cerita orang-orang tua dulu tentang awal mula munculnya gelar andi di dalam masyarakat bugis, namun belum ada yang dapat menunjukkan bukti atau sumber yang benar-benar dapat dijadikan rujukan mutlak.
Dari beberapa sumber yang kami dapatkan, maka dapat diuraikan secara singkat tentang penggunaan nama Andi sebagai gelar yang digunakan para bangsawan Bugis.
Sebutan “Andi” adalah sebutan alur kebangsawanan yang diwariskan hasil genetis (keturunan) Lapatau, pasca Bugis merdeka dari orang Gowa.” Andi” ini dimulai ketika 24 Januari 1713 dipakai sebagai extention untuk semua keturunan hasil perkawinan Lapatau dengan putri Raja Bone sejati, Lapatau dengan putri Raja Luwu (yang bersekutu dengan kerajaan Gowa), Lapatau dengan putri raja Wajo (yang bersekutu dengan kerajaan Gowa), Lapatau dengan putri Sultan Hasanuddin (Sombayya Gowa), Anak dan cucu Lapatau dengan putri Raja Suppa dan Tiroang. Anak dan cucu Lapatau dengan putri raja sejumlah kerajaan kecil yang berdaulat di Celebes.
Perkawinan tersebut sebagai upaya VOC untuk membangun dan mengendalikan sosiologi baru di Celebes. Dan dengan alasan ini pula maka semua bangsawan laki-laki yang potensial pasca perjanjian bungaya, yang extrim dikejar sampai ke pelosok nusantara dan yang softly diminta tinggalkan bumi sawerigading (Celebes).
Siapa yang pungkiri kalau (Alm) Jendral Muhammad Yusuf adalah bangsawan Bugis, tetapi beliau enggan memakai produk exlusivisme buatan VOC. Beliau sejatinya orang Bugis genetis sang Sawerigading. Siapa pula yang pungkiri bahwa Yusuf Kalla adalah bangsawan Bugis tetapi beliau tidak memakai gelar “Andi” karena bukan keturunan langsung Lapatau.
Dalam versi lain, walaupun kebenaraannya masih dipertanyakaan selain karena belum ditemukan catatan secara tertulis dalam “Lontara” tetapi ada baiknya juga dipaparkan sebagai salah satu referensi penggunaan nama “Andi” tersebut. Di era pemerintahan La Pawawoi Karaeng Sigeri hubungan Bone dan VOC penuh dengan ketegangan dan berakhir dengan istilah “Rompana Bone“. Dalam menghadapi Belanda dibentuklah pasukan khas yaitu pasukan “Anre Guru Ana’ Karung” yang di pimpin sendiri Petta Ponggawae. Dalam pasukan tersebut tidak di batasi hanya kepada anak-anak Arung (bangsawan) saja tetapi juga kepada anak-anak muda tanggung yang orangtuanya mempunyai kedudukan di daerah masing-masing seperti anak pabbicara’e, salewatang dan lain-lain, bahkan ada dari masyarakat to meredaka. Mereka mempunyai ilmu sebagai “Bakka Lolo dan Manu Ketti-ketti“. Anggota pasukan tersebut disapa dengan gelaran “Andi” sebagai keluarga muda angkat Raja Bone yang rela mati demi patettong’ngi alebbirenna Puanna (menegakkan kehormatan rajanya).
Menurut cerita orang-orang tua Bone, Petta Imam Poke saat menerima tamu yang mamakai gelaran “Andi” atau “Petta” dari daerah khusus Bone maka yang pertama ditanyakan “Nigatu Wija idi’ Baco/Baso? (anda keturunan siapa Baso/Baco?). Baso/Baco adalah sapaan untuk anak laki-laki. Jika mereka menjawab “Iyye, iyya atanna Petta Pole (saya adalah hambanya Petta Pole)”, maka Petta Imam Poke mengatakan “Koki tudang ana baco/baso” (duduklah disamping saya) sambil menunjukkan dekat tempat duduknya, maka nyatalah bahwa “Andi” mereka pakai memang keturunan bangsawan pattola, cera dan rajeng, tetapi kalau jawaban Petta mengatakan “oohh, enreki mai ana baco” sambil menunjukkan tempat duduk di ruang tamu maka nyatalah “Andi” mereka pakai karena geleran bagi anak ponggawa kampong (panglima) atau ana to maredeka yang pernah ikut dalam pasukan khas tersebut.
Dalam versi yang hampir sama, gelar “Andi” pertama kali digunakan oleh Raja Bone ke-30 dan ke-32 La Mappanyukki, beliau adalah Putra Raja Gowa dan Putri Raja Bone. Gelar itu disematkan didepan nama beliau pada Tahun 1930 atas Pengaruh Belanda. Gelar Andi tersebut bertujuan untuk menandai Bangsawan-bangsawan yang berada dipihak Belanda, dan ketika melihat berbagai keuntungan dan kemudahan yang diperoleh bagi Bangsawan yang memakai gelar “Andi” didepan namanya, akhirnya setahun kemudian secara serentak seluruh Raja-Raja yang berada di Sulawesi Selatan menggunakan Gelar tersebut didepan namanya masing-masing.
Kelihatannya kita harus membuka lontara antara era pemerintahan La Tenri Tatta Petta To Ri Sompa’e sampai La Mappanyukki khususnya versi Bone karena era itulah terjadi jalinan kerja sama maupun perseteruan antara Raja-Raja di celebes dengan VOC, selain itu orang yang bersangkutan menyaksikan awal penggunaan secara meluas bagi Ana’ Arung juga semakin sukar dicari alias sudah banyak yang berpulang ke Rahmatullah, salah satu pakar yang begitu arif tentang masalah ini adalah Almahrum Tau Ri Passalama’e Anre Gurutta H.A.Poke Ibni Mappabengga (Mantan imam besar mesjid Raya Bone)…
Gelar Andi, menurut Susan Millar dalam bukunya ‘Bugis Weddings’ (telah diterbitkan oleh Ininnawa berjudul (Perkawinan Bugis) disinggung bagaimana proses lahirnya gelar Andi itu. Memang, seperti yang disinggung di atas, saat itu Pemerintah Belanda di tahun 1910-1920an ingin memperbaiki hubungan dengan para bangsawan Bugis dengan membebaskan keturunan bangsawan dari kerja paksa. Saat itu muncul masalah bagaimana menentukan seorang berdarah bangsawan atau tidak. Akibatnya, berbondong-bondonglah warga mendatangi raja dan menegosiasikan diri mereka untuk diakui sebagai bangsawan, karena rumitnya proses itu maka dibuatlah sebuah gelar baru untuk menentukan kebangsawanan seseorang dengan derajat yang lebih rendah. di pakailah kata Andi untuk menunjukkan kebangsawanan seseorang dalam bentuk sertifikat (mungkin sejenis sertifikat yang menunjukkan bahwa yang bersangkutan telah lulus dalam kursus montir mobil atau sejenisnya).
Penggunaan Andi saat itu juga beragam di setiap kerajaan. Soppeng misalnya hanya menetapkan bahwa gelar Andi adalah bangsawan pada derajat keturunan ketiga, sementara Wajo dan Bone hingga keturunan ketujuh.
Dari sumber berikutnya dapat kami uraikan sebagai berikut. Gelar Kebangsawanan “Datu” adalah gelar yang sudah ada sejak adanya kerajaan Bugis, di Luwu misalnya, semua raja bergelar Datu, dan Datu yang berprestasi bergelar Pajung, jadi tidak semua yang bergelar Datu disebung Pajung. Sama halnya di Bone, semua raja bergelar Arung, tapi tidak semua Arung bergelar Mangkau, hanya arung yang berprestasi bergelar Mangkau. Begitu juga di Makassar atau Gowa, semua bangsawan atau raja-raja bergelar Karaeng, hanya yang menjadi raja di Gowa yang bergelar Sombaiya.

Gelar kebangsawanan lainnya, mengikut kepada pemerintahan atau panggaderen di bawahnya, seperti Sulewatang, Arung, Petta, dan lain-lain. Jadi gelar itu mengikut terhadap jabatan yang didudukinya. Sementara untuk keturunannya yang membuktikan sebagai keturunan bangsawan, di Makassar dipanggil Karaeng. sedang di Bugis dipanggil Puang, dan di Luwu dipanggil Opu.
Adapun gelar Andi, pertama-tama yang menggunakannya adalah Andi Mattalatta untuk membedakan antara pelajar dari turunan bangsawan dan rakyat biasa. Dan gelar Andi inilah yang diikuti oleh turunan bangsawan Luwu, dan Makassar. Jadi di zaman Andi Mattalattalah gelar ini muncul.

Puisi Ratapan Anak Panrita Kitta

RATAPAN ANAK PANRITA KITTA
cipt.  Aruel Sederhana
Masse nyawaku melihat linoku terluka oleh mereka
Masse nyawaku melihat linoku tak mampu tersenyum oleh mereka
Mereka, mereka.., yah mereka....
Mereka yang mengaku cinta pada negeriku
Mereka yang mengaku cinta pada kotaku
Tapi kenyataan pahit yang aku dapatkan dari mereka
yang memerkosa bagian hidupmu
yang menjilat keperawananmu dengan lidah bengis 
Katanya akan menjaga, melindungi bahkan membangun
Nyatanya hanyalah menghancurkan,melukai, 
Ampe gaunna bagai boneka kepalsuan yang bersolek cantik di tengah lesung pipi kedamaian
Tingkah laku mereka bagai jarang lotong yang berlari di lintasan pertempuran penuh kedustaan
Dimana ? dimana ampe madeceng yang dibawa andi karaeng petta puangku dulu
Dan sikap sipakatau sipakalebbi sipakainge yang menyatukan kita dulu
Apa semuanya hanyalah leppa-lepaangeng saja
Masirikka...., masirikka mitai lino panrita kittaku yang sekarang
Ketika badik sudah tercabut dari sarungnya
Dan teriakan-teriakan te’mpo telah mentradisi di panrita kittaku
Dimana ?? dimana dara selessureng yang kita tanamkan dulu,
Andi karaeng petta puangku akan bersedih bersamaku 
Ketika melihat idi, fada idi sianre sipallokoang tanpa belas kasihan
Bukan saatnya begitu kawan, 
Fada sipadecengiki...., fadecengi kampongta
Fadecengi linotaaa...
Sadarlah saudaraku
sadarkan hati dan jiwamu, ini bukan lagi saatnya untuk diam
atau sekedar menatap senja yang menari bersama modernisasi 
menatap kehidupan sang bintang malam yang sebentar lagi akan sembunyi ketika mentari telah menghampiri hari
menatap kesedihan sembunyi dalam pelipur laramu saudara
bangkitlah wahai saudara...
saatnya kita megusir mereka yang memberi janji kepalsuan pada bumi panrita kitta
saatnya kita melenyapkan mereka yang hanya perusak tidur malammu

bumi panrita kittaku ini selessureng
membutuhkan kedamaian, kenyamanan dan ketulusan cinta
tania janji tak berbukti, tania ada-ada pa’belleng saja
tapi pengabdian yang akan membuat bumi panrita kitta tersenyum
tersenyum bahagia bersama kita selessureng sikampongku

Kumpulan Sajak Abang Dhio'

AJARI CARA BERMIMPI
sungguh aku merasa heran, mengapa
selalu saja kau bertanya tentang
bagaimana cara bermimpi yang indah
dan sudah berulangkali kukatakan,
masuklah ke dalam mimpiku
lalu menjelmalah apa saja yang kau suka
tetapi selalu saja kau menjelma
seorang lelaki tua di tepi jalan
seorang anak yang berlari dalam hujan
sambil menadahkan tangan
kau selalu juga bertanya dengan lugunya
siapa anak itu dan siapa lelaki tua itu
padahal kau sedang berada dalam mimpiku
bagaimana aku katakan kalau itu
adalah sebagian impian masa laluku?
kau pasti tidak akan pernah percaya
dan kau pasti katakah, toh itu hanya mimpi
tetapi diam-diam kau mencurinya
lalu kau menidurinya menjadi bunga mimpi
(diam-diam, aku pun memetiknya
sebelum kau terjaga....)

SAATNYA
saatnya berkumur dan sikat gigi
meskipun tak punya mulut
saatnya mencuci muka
meskipun tak punya wajah
saatnya mungkin tersenyum
meskipun tanpa bibir
saatnya mungkin berbicara
meskipun tanpa kata diucapkan
saatnya mungkin berpaling
meskipun tanpa punggung
saatnya mungkin melangkah
meskipun tanpa kaki
saatnya mungkin melupakan
meksipun tak ada yang diingatkan
saatnya mungkin bekerja
meskipun tak ada yang dikerjakan
saatnya mungkin untuk
mencoba semua kemungkinan
menjadi sebuah kepastian

TELAH KUCIPTAKAN
telah kuciptakan sungai
tapi kau tak mengalir
bahkan kau membuat bendungan
telah kuciptakan lautan
tapi kau tak berlayar
menuju kebebasan
tapi kau tambatkan
di sebuah dermaga
telah kuciptakan gunung
kau tak pernah mendaki
karena kau memilih
jalan pulang ke rumah
telah kuciptakan harapan
tapi kau memilih
keputus asaan dari
setiap kesempatan
telah kuciptakan kasih
tapi kau memilih benci
hanya karena kedengkian
telah kuciptakan ketiadaan
dan kau pun menghilang

BAGAIMANA MUNGKIN
bagaimana mungkin kau membakar matahari
menggarami lautan hanya dengan penyasalan
bagaimana mungkin kau dapat menegakkan
benang yang basah hanya dengan airmata
bagaimana mungkin kau dapat memahami puisi
jika kau tak pernah membaca dan menuliskannya
bagaimana mungkin kau dapat membencinya
jika kau ternyata begitu sangat mencintainya
bagaimana mungkin kau dapat mengatakan sejujurnya
jika kau ternyata selalu saja berdusta
bagaimana mungkin kau sangat mengenalku
jika ternyata kita tidak pernah bertemu
dan kau pun menjawab semua mungkin jika yakin
sementara kau sendiri tak pernah meyakininya

SISA SEPOTONG MIMPI
sisakanlah sepotong malam untukku
sekedar untuk bermimpi
jika kelak aku terjaga sebelum tidur
jangan kau bertanya
apakah aku sedang bermimpi
kalaupun kau masih juga ragu
masuklah ke dalam mimpiku
lalu ceritakanlah padaku
hingga aku dapat tidur dalam mimpiku
dan sisa sepotong malam
akan kuberikan juga untukmu
agar kau juga dapat bermimpi sepertiku.


AKU INGIN PULANG...
Mata ini mulai sembab oleh hujan...
Lalu kelam melayang-layang dihidungku
Jelas terlihat pucatnya tertunduk penuh ratap
Lalu hitam kembali menyeret ku
Tuhan...
Aku tahu
Setan menari-nari dipangkuanku, itu dulu
Tertawa berapi-api, lalu menghina-Mu, itu dulu
Makin dalam aku tertunduk malu
Makin berat Setan di tengkuk ku
Dustanya menjilati kuping ini
Lalu aku dibenamkannya dalam dosa
Tuhan
Aku ingin pulang...
Sudikah Engkau buka pintu dan jendela
Beri aku secuil udara
Karena setan itu menjerat ku dengan erat
Tuhan
Aku ingin pulang...
Lagi...
Malu menghampiri
Lagi...
Tertunduk lebih dalam lagi
Seberapa pantas aku menatap-Mu ?
dosa ini membenamkanku
Seberapa pantas aku menaruh harap ?
Sebab hitam sudah mengkarat
Tak perlulah Kau gelar karpet merah
Karena aku terlalu payah
Bukan bingkai kaca yang aku minta
Karena kembali pulang pada-Mu itu yang sangat berharga
Tuhan
Aku ingin pulang...
01:55 AM
"Berusaha menggali sisa-sisa putih dalam pekatnya hitamku"


TERMAKAN SENJA (!)

Duduk terpaku menatap tetesan air hujan
tanpa suara kamu minta pamit
yah, senja itu...
dikala tak ada yang perlu dibahas lagi
tak ada yang perlu didengar lagi
kecuali tetesanNya
yang akan menyisahkan sebaris luka
yang tergores dari hati sampai pada airmata.
Jangankan maaf
senyum pun takkan ku beri
karena kamu yang meminta
agar aku duduk tenang di sini
di jendela kaca ini
dan sebelum gelap menyertaiku
ingin kuukir sebuah nama yang meninggalkanku
dan biarkan dia termakan bersama hilangnya senja
sore itu (!)...

Puisi Catatan Diakhir Kisah

Catatan Diakhir Kisah
cipt. Abang Dhio’

Biarkan tangan lemah ini
Mengusap air mata di pipimu
Ketika tidak ada lagi
Yang mampu menemanimu

Biarkan bahu yang lemah ini
Menyandarkan tubuh mungilmu
Ketika tidak ada lagi
Tempat untuk menyandarkanmu

Mata ini yang akan selalu memahamimu
Bibir ini yang akan selalu menyebut namamu
Kaki ini yang akan menuntunmu
Berlari dari pahitnya cinta

Karena kelemahanmu adalah deritaku
Karena kesedihanmu juga air mataku
Izinkan kugenggam tangan itu
Dan kulukiskan tirai kehidupan
Yang akan kau buka dan lihat
Ada kisah yang lebih indah
Disetiap sela mata berkedip

Puisi MerindukanMu

MerindukanMu
cipt. Abang Dhio’

Bukan kepalsuan yang kumau
Bukan Kesemuan yang kubutuhkan
Hanya sebagai tempat
Yang bisa terima hinanya aku

Kutemukan itu di sisiMu
Terlihat dalam Agung namaMu
Tempat terindah yang hanya MilikMu
Tempat termewah yang hanya di sisiMu

Tempat yang bisa terima kotornya aku
Yang member bahagia dan ketenangan
Sungguh kepalsuan tiada padaNya
Kesemuan pun mustahil bersemayam di altar suciNya

Wahai dzat penggenggam jiwa
Jiwa yang hidup dan mereka yang telah mati
Merindumu dalam segala taubatKu

Berharap diterima di tempat yang hanya milikMu

Puisi Pada Selembar Pagi

Pada Selembar Pagi
cipt. Abang Dhio’

Kalau boleh aku meminta pada selembar pagi
Jagalah senyumnya
Agar tetap tersimpul, lirihku
Aku tahu aku bukan orang baik
Hanya seorang penghitung hari

Kalau boleh aku meminta pada selembar pagi
Jagalah mimpinya
Agar tetap berkhayal, kataku
Karena hari ini
Pagi rindu dengan gelapnya

Kalau boleh aku meminta pada selembar pagi
Jangan ada lagi pagi seperti ini
Juga senyum dan mimpi seperti ini
Karena aku hanya meminta

Bukan mengemis

Senin, 09 Februari 2015

Sinjai Dimata Generasi Muda oleh Abang Dhio'

MENAPAKI JEJAK SEJARAH SINJAI
Dalam takaran generasi muda

Sejarah akan terlupakan jika sejarah tak pernah dibagi atau diceritakan ke generasi selanjutnya. Hal ini dapat menyebabkan suatu generasi tidak mengerti dengan sejarah, seperti halnya yang terjadi pada masa dewasa ini sangat banyak generasi muda tidak tahu-menahu akan sejarah terutama pada sejarah kota tempat tinggalnya atau kota tempat dilahirkannya. Serta  tidak dapat dipunkiri saya pribadi tidak banyak mengetahui mengenai sejarah dan budaya kota tempat saya tinggal dan dibesarkan.
Oleh karena itu, untuk mencegah hal ini terjadi dibutuhkan langkah-langkah yang efisien untuk menyampaikan sejarah selain dengan suguhan cerita-cerita sejarah (cerita masa lampau). Meskipun hal ini tidak menjamin semua generasi dapat langsung mengerti atau mengetahui suatu sejarah.
Suatu langkah awal yakni  dengan menyuguhkan sebuah  sejarah  tapi itu  dalam bentuk perjalanan “Menapaki Jejak Sejarah Sinjai dalam Takaran Generasi Muda”.
Sinjai dari masa kemasa, merupakan suatu masalah yang perlu disajikan dengan dasar pemikiran bahwa suatu kejanggalan yang dimiliki oleh sebuah komunitas masyarakat jika tidak mengetahui asal-usulnya. Disamping itu, juga perlu diketahui bagaimana kiprah masyarakat Sinjai pada masa dahulu yang semata-mata hanya memperoleh ilham dari yang Maha Kuasa yang mewarnai pemikirannya sehingga terinspirasi untuk mengatur kehidupannya baik di dalam memenuhi kebutuhan hidupnya maupun di dalam mengatur pemerintahan.
Untuk itu generasi kita harus memahami kondisi nenek moyangnya dari segala sudut kehidupannya termasuk falsafah hidup yang ditinggalkan untuk dijadikan patron di dalam mengembangkan Sinjai kedepan. Artinya kita perlu menata kehidupan yang lebih maju, tetapi jangan hendaknya kita meninggalkan nilai-nilai luhur sebagai warisan budaya. Disinilah makna yang dapat dipetik sehingga setiap tahun diadakan acara peringatan hari jadi Sinjai. Tanpa mempertahankan nilai-nilai luhur, dapat berarti masyarakat kita akan kehilangan nilai dan dapat juga berarti masyarakat kita akan mengalami pergantian generasi.
Dalam hal ini, perlu kita mencontoh ke Jepang yang sudah memasuki dunia Industri, tetapi nilai budaya masyarakatnya masih dapat dipertahankan. Tidak sama dengan kita, ketika mengadopsi budaya dan peradaban dari luar, seketika itu hilang pula nilai budaya luhur kita.
Sinjai bersumber dari satu turunan,  kemudian tersebar keberbagai penjuru dalam wilayah Sinjai. Jadi wajarlah apabila kita saling menghargai, saling menarik keatas,  dan saling menjunjung di atas landasan kebenaran seperti apa yang menjadi muatan perjanjian topekkong.
Kabupaten Sinjai berdasarkan penelusuran sejarah, dimulai dari pemukiman pertama di Wawo Bulu Manipi Kecamatan Sinjai Barat di sebelah timur Malino dipimpin oleh orang yang digelar Puatta Timpae’ Tana atau To Pasaja yaitu Arung Manurung Tanralili.
Keturunan Arung Tanralili, salah seorang diantaranya adalah wanita yang kemudian puteri Tanralili inilah yang mengembangkan wilayah Wawo Bulu menjadi Kerajaan Turungeng.
Raja wanita tersebut diperisterikan oleh putera Raja Tallo yang kemudian salah seorang turunannya adalah wanita kawin dengan salah seeorang putera Raja Bone. Dari hasil perkawinan itulah yang kemudian melahirkan enam orang putera dan satu orang puteri. Akan tetapi puterinyalah yang menggantikan ibunya menduduki tahta kerajaan di Turungeng. Adapun keenam puteranya ditebarkan ke wilayah lain sehingga ada yang bermukim di Manimpahoi, Terasa, Pao, Manipi, Suka, Bala Suka dan masing-masing berusaha membentuk wilayah kekuasaan.
Dari keturunan Puatta Timpae’ Tana atau To Pasaja inilah yang berhasil membentuk kerajaan dalam wilayah dekat pantai yang dikenal dengan kerajaan Tondong, Bulo-Bulo, dan Lamatti.
Untuk memelihara hubungan dan keutuhan wilayah kerajaan yang bersumber dari satu keturunan, maka muncullah gagasan dari I Topacebba (anak dari La Padenring)  yang digelar Lamassiajingeng (Raja Lamatti ke-X) berupaya mempererat hubungan Lamatti dengan Bulo-Bulo atas dasar semboyan “PASIJAI SINGKERUNNA LAMATTI BULO-BULO  artinya satukan keyakinan / kekuatan Lamatti dengan Bulo-Bulo.
Penggagas dalam memelihara persatuan Lamatti dan Bulo-Bulo saat meninggalnya digelar  “PUATTA MATINROE’ RISIJAINNA.
Sinjai dalam ungkapan bahasa Bugis bermakna satu jahitan. Sinjai artinya bersatu dalam jahitan. Dari istilah sijai menjadi sinjai, merupakan suatu simbol dalam mempererat hubungan kekeluargaan, menurut bahasa Bugis.
Dari pertumbuhan dan perkembangan kerajaan yang ada, muncul pemikiran baru tentang perlunya memperkuat persatuan dan kesatuan dalam memelihara dan melindungi kerajaan yang ada, maka dibentuklah kelompok gabungan kerajaan yang berbentuk federasi yang dikenal dengan :
1.      TELLU LIMPOE’, merupakan persekutuan kerajaan yang berdekatan dengan pantai, yaitu Tondong, Bulo-Bulo, dan Lamatti.
2.      PITU LIMPOE’, merupakan persekutuan kerajaan yang berlokasi di daerah dataran tinggi , yaitu kerajaan Turungeng, Manimpahoi, Terasa, Pao, Manipi, Suka, Balasuka.
Federasi kerajaan Tellu Limpoe’ dan Pitu Limpoe’ merupakan dua kekuatan yang akan membendung arus ekspansi dari barat dan selatan, juga merupakan kekuatan pertahanan untuk membendung arus ekspansi dari utara dan penyelamatan garis pantai.
Secara geografis, wilayah Sinjai menempati posisi strategis karena berada pada kawasan pantai dan pegunungan yang merupakan lintas batas kerajaan Gowa dan Bone.
Antara kerajaan Gowa dan Bone senantiasa bersaing dalam merebut pengaruh terhadap kerajaan tetangga sehingga wilayah Sinjai merupakan wilayah yang diincer oleh kedua kerajaan tersebut.
            Untuk mempertahankan wilayah garis pantai, raja-raja Tellu Limpoe’  (Lamatti, Tondong, Bulo-Bulo) bersepakat mendirikan benteng pertahanan di Balangnipa pada tahun 1557 dan diberi nama benteng Tellu Limpoe’ atau Benteng Balangnipa.
            Melihat kondisi perkembanagan gerakan kedua kerajaan tersebut (Gowa dan Bone), maka kerajaan-kerajaan kecil yang dalam wilayah Sinjai menyatakan dirinya sebagai kerajaan yang berstatus federasi yang terbentuk menjadi dua kekuatan yang tidak dapat dipisahkan dalam membendung pengaruh dari dua kerajaan besar.
            Upaya pembentukan dua kekuatan pertahanan, yaitu Pitu Limpoe’ dan Tellu Limpoe’ mengadakan kesepakatan untuk mempertahankan wilayahnya dari pengaruh ekspansi Gowa dan Bone.
            Oleh karena raja-raja yang ada dalam wilayah Sinjai merasa dirinya sebagai satu sumber keturunan sehingga kedua kekuatan tersebut  (Pitu Limpoe’ dan Tellu Limpoe’) menempuh jalan yang arif dengan bersikap netral menghadapi kedua kerajaan tersebut. Sikap netral itulah sehingga menjadikan dirinya sebagai mediator untuk melakukan perdamaian antara Gowa dan Bone. Untuk itu maka  Tellu Limpoe’ maupun Pitu Limpoe’  tidak melakukan pemihakan dalam menghadapi kedua kerajaan tersebut sehingga berhasil mempertemukan kedua kerajaan yang saling berebut kekuasaan dan pengaruh. Dengan demikian maka digagaslah suatu perundingan untuk perdamaian sehingga pada bulan Februari 1564 Raja Bulo-Bulo ke-VI La Mappasoko Lao Manoe’ Tanru’na berhasil mempertemukan kedua kerajaan yang bertikai.
            Dalam perundingan, kerajaan  Gowa diwakili oleh I MANGERAI DAENG MAMETTA dan kerajaan Bone diwakili oleh LATENRI RAWE BAONGKANGE yang disaksikan oleh raja-raja yang ada dalam wilayah Sinjai, yaitu Raja La Padenring (Raja Lamatti ke-VIII (bergelar Arung Mapali’e, suami I Daommo alias Mabbissuneng Eppa’e Arung Bulo-Bulo),  Iyottong Daeng Marumpa Raja Tondong, dan La Mappasoko Lao Manoe’ Tanrunna mewakili Raja Bulo-Bulo.
            Pertemuan antara Raja Bone dan Raja Gowa diadakan di Topekkong Kalaka Sinjai kira-kira 3 km dari pusat kota Sinjai (Balangnipa) dan berhasil melahirkan kesepakatan yang dikenal dengan PERJANJIAN TOPEKKONG yang ditandai dengan LAMUNG PATUE’ RI TOPEKKONG (Penanaman batu besar).
           Lamung Patue’ merupakan simbol, bahwa bagian batu yang tertanam dimaksudkan sebagai simbol penguburan sikap keras yang dapat merugikan semua pihak. Batu yang muncul dipermukaan tanah, merupakan simbol persatuan yang tak tergoyahkan.
Perjanjian Topekkong
MADDUMME TO SIPALALO
saling mengizinkan mencari tempat bernaung
MABBELLE TO SIPASORO
saling memberi keuntungan dalam menangkap ikan
SEDDI PABBANUA PADA RIAPPUNNAI
satu penduduk kita miliki bersama
LEMPA ASEPA MAPPANNESSA
pikulan padi yang menentukan, kemana padinya dibawa disitulah pilihannya
MUSUNNA GOWA MUSUNNA TO BONE NA TELLU LIMPOE’, MAKKUTOPI
ASSIBALINNA
musuh Gowa, juga musuh Bone dan Tellu Limpoe’, begitu pula sebaliknya
SISAPPARENG DECENG, TENG SISAPPARENG JA
saling mencari kebaikan, tidak saling mencari kejelekan (kekurangan)
SIRUI MENRE TE SIRUI NO
saling menaikkan, tidak saling menjatuhkan (menurunkan)
MALILU SIPAKAINGE, MALI SIPARAPPE
saling mengingatkan, saling menyelematkan
Oleh karena raja-raja yang ada dalam wilayah Sinjai konsisten terhadap perjanjian Topekkong sehingga pada saat orang Belanda mendatangi dan membujuk kerajaan Bulo-Bulo  untuk memerangi kerajaan Gowa sebagai upaya untuk memecah belah kerajaan yang ada di wilayah Sulawesi Selatan sehingga puncak upaya Belanda untuk memecah belah terjadi pembunuhan terhadap orang-orang Belanda pada 29 Februari 1636 M. / 22 Ramadhan 1057 H.
Pada tahun 1824 Gubernur Jenderal Van Der Capellen datang dari Batavia membujuk I Cella Arung Bulo-Bulo XXI untuk menerima perjanjian Bongaya, dan mengizinkan Belanda mendirikan loji ( Kantor Perdagangan) di Lappa. Tetapi dengan tegas ditolak, sehingga pada saat itu orang Belanda mengadakan penyerangan di bawah pimpinan Van Der Capellen, sedangkan pasukan kerajaan Tellu Limpoe’ dipimpin oleh La Mandasini (Puatta Mapute Isinna) sebagai Dulung (Panglima) Tellu Limpoe’dan Baso Kalaka yang berhasil memukul mundur pasukan Belanda. Ketika itu I Mappajaji alias I May Dg. Sisila anak dari I Mappakana arung Bulo-Bulo sebagai Arung Lamatti ke-30.
            Pada tahun 1859 pasukan Belanda kembali mengadakan serangan besar-besaran melalui laut dan darat yang dipimpin oleh Jenderal Van Swiaten. Oleh karena kekuatan tidak berimbang akhirnya Sinjai direbut oleh Belanda . Dengan demikian maka pada 15 Nopember 1861 Gubernur Sulawesi menetapkan daerah taklukannya Tellu Limpoe’ dijadikan wilayah pemerintahan dengan sebutan Gester Districten. Oleh karena pasukan Belanda telah menaklukkan kerajaan Tellu Limpoe’ maka Belanda berusaha mengadakan pemugaran benteng Tellu Limpoe’ pada tahun 1864 - 1868 kemudian dijadikan markas pertahanan, sekaligus sebagai tempat tahanan (bekasnya sudah tidak ada) dikenal dengan kandang macan.
             Oleh karena Balangnipa pernah dilanda banjir sehingga benteng Balangnipa kemasukan air, maka Belanda berusaha memindahkan tahanan di Balobboro dalam bentuk kandang macan beberapa buah yang tidak beratap. Adapun bekas tahanan di balobboro penulis masih dapat melihat sekitar tahun 1969, tetapi sekarang sudah tidak ada lagi, bahkan sudah menjadi pemukiman penduduk.
Jadi untuk membuktikan kekejaman kolonial terhadap pribumi sudah mengalami kesulitan karena bukti yang menjadi saksi sejarah sudah tiada.
Pada 24 Februari 1940 Gubernur Grote Gost menetapkan pembagian wilayah administrasi untuk daerah timur besar termasuk Residensi Celebes di mana daerah Sinjai bersama dengan beberapa daerah lainnya berstatus Onther Afdeling dalam wilayah Afdeling Bonthain. Sedangkan Onther Afdeling  Sinjai dibagi atas beberapa Adats Gemencap, yaitu : Cost Bulo-Bulo, Tondong, Manimpahoi, Lamatti West, Manipi dan Turungeng.
             Pada masa pendudukan Jepang, struktur pemerintahan ditata kembali sesuai kebutuhan bala tentara Jepang yang bermarkas di Gojeng.
             Perjuangan pemuda untuk mempertahankan kemerdekaan semakin tinggi sehingga pemuda-pemuda membentuk organisasi SUDARA (Sumber Darah Rakyat) yang disponsori oleh Abd. Razak Simarajalelo, KRIS MUDA (Kebaktian Rakyat Islam Muda) dan lain-lain.
            Oleh karena  posisi Sinjai merupakan daerah yang strategis dan ditopang oleh semangat juang yang tinggi sehingga sebagian pemuda yang akan ikut berjuang di Jawa menjadikan daerah pantai Sinjai sebagai tempat transit ke Jawa, demikian pula yang berasal dari Jawa.
            Kondisi masyarakat Sinjai sangat antusias menyambut dan mempertahankan kemerdekaan sehingga para pejuang tidak henti-hentinya mengadakan konsolidasi dan koordinasi untuk mengadakan perlawanan yang dipimpin oleh M. Syurkati Said, M. Yahya Mathan, M. Sultan Isma, M. Dahlan Isma, A. M. Saleh, Abdul Hai, M. Sattar, Mukmin dan lain-lain yang mendapat dukungan rakyat Sinjai, kecuali yang merasa ada hubungan dengan Belanda.
Kemerdekaan Negara Indonesia diproklamirkan dalam sebuah Proklamasi pada 17 Agustus 1945 di Jakarta oleh Soekarno dan Hatta. Atas dasar itu maka berakhirlah kekuasaan Jepang di Indonesia dan menyerahkan kedaulatan itu kepada bangsa Indonesia untuk mengatur pemerintahannya sehingga sturktur pemerintahan di Sinjai masih tetap berada di bawah Daerah Swatantra Tingkat II Bonthain yang membawahi Bonthain sendiri, Sinjai, Bulukumba, dan Selayar dengan status Kewedanaan.
          Pemerintah Jepang di Makassar mengirim Abd. Razak Simarajalelo (orang Sumatera) ke Sinjai (seorang pejuang yang berada di Makassar) untuk menerima penyerahan pemerintahan di Sinjai. Setelah itu, Abd. Razak  Simarajalelo melanjutkan penyerahan.  Pemerintahan di Sinjai kepada H. A. Mappatoba (Arung Bulo-Bulo Timur) maka resmilah Pemerintahan di Sinjai dipegang oleh bangsa Indonesia pada 19 Agustus 1945.
H. A. Mappatoba menjadi Kepala Pemerintahan R. I. (KPRI) Dalam bentuk Kewedanaan Di Sinjai dengan membawahi  Distrik Lamatti, Bikeru, Manimpahoi, dan Manipi.       
            Dalam perjalanan pemerintahan KPRI terjadi perubahan istilah pemerintahan menjadi Kepala Pemerintahan Negeri (KPN), pada masa ini pemerintahan dipegang oleh Abd. Razak Dg. Patunru (orang Bulukumba), kemudian beralih kepada Ahmad Marsuki Dg. Marala (Ayah Laica Marsuki SH.). Selanjutnya pemerintahan beralih kepada Puatta Indar (Sinjai), kemudian beralih kepada Laode Hibali (orang Buton) pada tahun 1955. Selanjutnya kepala pemerintahan beralih kepada A. Attas (orang Bone), kemudian pindah kepada A. Jamuddin ( orang Bone), kemudian pindah kepada Bustan (Mantan Kepala Daerah Wajo). Pada saat ini berakhirlah istilah Kewedanaan dan Distrik diubah menjadi Daerah Swatantra Tingkat II Sinjai (Daswati II Sinjai), dan Distrik diubah menjadi Kecamatan sehingga Kepala Pemerintahan menjadi Kepala Daerah dan Camat pada tahun 1959. Dari Daswati diubah lagi menjadi Dati II Kabupaten Sinjai dan kepala pemerintahannya bergelar Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kabupaten Sinjai.  Istilah Dati II Kabupaten Sinjai berubah menjadi Kabupaten Sinjai dan kepala pemerintahannya bergelar Bupati Sinjai.
             Perubahan sistem pemerintahan tersebut terjadi karena berdasarkan UURI. No. 29 Tahun 1959 yang mengatur pemerintahan dan pemekaran serta pembentukan Daerah Swatantra Tingkat II.  Atas dasar UURI tersebut Sinjai ditingkatkan statusnya dari Kewedanaan di bawah naungan Bonthain sehingga pada 29 Oktober 1959 Sinjai resmi menjadi Daerah SwatantraTingkat II Sinjai yang dipimpin oleh Mayor A. Abd. Latief sebagai Kepala Daerah yang pertama dan dilantik pada 27 Februari 1960.  Jadi secara dejure Sinjai baru memasuki umur 46 tahun.
           Setelah perang mempertahankan kemerdekaan usai, maka kekuasaan berada di tangan bangsa Indonesia masih dalam suasana transisi.  Untuk itu,  struktur pemerintahan yang ada masih tetap dipertahankan sehingga pemerintahan Sinjai yang berstatus Kewedanaan dan berada dalam naungan Daerah Swatantra Bonthain seperti halnya Bonthain sendiri, Bukukumba dan Selayar.
          Oleh karena Sinjai berada di bawah pemerintahan Daerah Swantantra Bonthain maka yang mewakili Kewedanaan Sinjai sebagai anggota DPR ialah St. Marwah Sulaiman dan M. Syurkati Said, dan A. Muh. Saleh. Konon wakil dari kewedanaan Sinjai cukup berpengaruh, karena St. Marwah Sulaiman dalam sejarahnya pernah membubarkan rapat DPR Bonthain karena terjadi perbedaan prinsip.

MENAPAKI PENAMAAN SINJAI
dalam mitos dan fakta sejarah

Seminar menelusuri hari jadi Sinjai berlangsung di ibukota kabupaten itu, pada 2-3 Februari 1994. Rumusan seminar kemudian menentukan tanggal 27 Pebruari 1564 sebagai hari jadi Kabupaten Sinjai. Penentuan tanggal, bulan dan tahun tersebut melewati perdebatan panjang antara pembawa makalah dan peserta seminar. Penemuan hari jadi bagi masyarakat Sinjai mungkin menjadi spirit dan menyatukan langkah dalam pembangunan.
Menentukan kapan Sinjal lahir dalam sejarah, membutuhkan proses penelusuran  dalam mitos dan  fakta sejarah. Daftar mitos dan fakta sejarah. yang mengitari Sinjai dalam kehadirannya memang cukup panjang. Sehingga  perlu dilakukan penyeleksian dan pelacakan lebih obyektif, ilmiah, rasional dan tetap memperhatikan dunia pemitosan.
Mencari titik awal kehadiran dalam sejarah, pada satu sisi memerlukan metodologi tersendiri. Sebab dalam kenyataan ini memadukan antara dunia imajiner, simbol serta fakta-fakta pendukung lainnya.  Kepastian dalam sejarah memang tidak akan ditemukan begitu saja tetapi melewati pergulatan antara fakta, metodologi, persepsi dan logika.
Cara kehadiran Sinjai dapat ditelusuri melalui kenyataan empiris, pemikiran rasional berdasar logika serta lewat tradisi lisan.  Kenyataan empirik tandas. Di zaman Hindia Belanda, Sinjai merupakan salah satu wilayah Onderafdeling  dibawah salah seorang Controleur  Belanda dalam lingkup Afdeling Bonthain, sampai kemudian turun SK. Mendagri dan Otonomi Daerah tgl 29 Januari 1960 No. UP7/2//44  meresmikan  Sinjai sebagai salah satu daerah tingkat II di Sulsel.
Sinjai merupakan salah satu negeri yang sudah pasti ada sebelum disebut onderafdeling dan kabupaten. Secara etimologis Sinjai berarti sama banyaknya jika ditinjau dari perbendaharaan kata bahasa Makassar.
Tradisi lisan atau yang sudah tercatat dalam lontara, penamaan Sinjai diceritakan dalam beragam versi. Versi Gowa, mengatakan ketika Sombayya (raja Gowa ke-10, I Manriwa Gau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipallangga Ulaweng) dalam pelayaran kembali ke Gowa dari perang, di Bone pertengahan abad XVI.
Sementara dalam pelayaran di sekitar Pantai Mangarabombang, baginda menengok ke daratan dan bertanya "Apakanne rate? kere jai balla'na ri Maccini Sombala? negeri apakah di daratan itu? Mana lebih banyak rumah dibandingkan dengan Maccini Sombala?. Perwira yang mengawal baginda menjawab "Sanjai, sombangku”. sama banyaknya tuanku,  Sombaya mengulang kata itu Sanjai’
Semua pasukan dalam kapal mendengar dan menyebut Sanjai kemudian memahami negeri di daratan yang ditanyakan baginda dengan nama Sanjai terletak di negeri Tondong dan Bulo-Bulo yang sudah berada, dalam kekuasaan dan perlindungan Butta Gowa. Kemudian dalam mengucapkan dan penanaman selanjutnya, berubah meniadi Sinjai. Sampai kini disekitar Mangarabombang, masih tetap ada satu desa yang, bernama Sanjai.
Sinjai dahulu bernama Baemoente. Perubahan nama terjadi ketika raja Gowa Tunipallangga Ulaweng (1546-1565) dalam pelayaran ekspedi menaklukkan daerah pesisir timur jazirah selatan Pulau Sulawesi dan mendarat di Bulo-Bulo untuk mengamati dan menguasai negeri itu. Baginda tertegun keheranan melihat kesejahteraan dan kepadatan penduduk negeri ini. Akhimya berkata kepada raja Bulo-Bulo "Engkau boleh menamakan negeri Sinjai atau Sanjai karena negerimu ini dihuni sama baiknya di negeri Gowa.
Versi cerita rakyat penamaan Sinjai sangat beragam. Penamaan Sinjai tidak terlepas dalam konsep Tomanurung yang merupakan cikal bakal yang memerintah dalam tatanan masyarakat yang kacau balau.  Raja dan arung pertama memerintah di Sinjai berasal dari Manurung Tanralili Tamanurung yang tidak diketahui dari mana asalnya dan di negeri Puatta Tippange Tana selalu berpindah-pindah.
Karena Puatta Tippange Tana tidak menetap dalam suatu daerah sehingga masyarakat Bugis menamakannya ’sajami‘ atau ‘saja’mi’ artinya tidak lama dapat dilihat lalu lenyap dari pandangan kemudian muncul di tempat lain. Persingahan sejenak di suatu tempat disebut ‘madumme’ (tinggal sesaat) kemudian melanjutkan perjalanan. Perilaku Tomanurung ini yang ‘sajai‘ sehingga masyarakat yang ditinggalkan memberi nama  “Pasaja”. Kondisi kekinian memberi  indikasi, penamaan itu akan dijumpai daerah  sekitar Mangarabombang, negeri bernama Sinjai dan Dumme  yang masing-masing menjadi desa di Kecamatan Sinjai Timur.
Ada 2 fase Tomanurung di Sinjai. Pertama,  Tomanurung di Ujung Lohe diberi nama Bara Keling. Kemudian seorang putri dari Gantarang Keke bernama Mara Maso. Pasangan suami istri ini menurunkan dua orang anak putra dan putri. Fase pertama ini kurang jelas diketahui bagaimana sistem pemerintahannya. Ujung Lohe kini berada disekitar Soalahe, Bongki dan Panreng.
Tamanurung dari fase kedua dari kedatangan TimpaE Tanah yang datang di sebuah bukit yang disebut TonroE, tempat itu dalam perjalanan waktu dikenal Tondong. Dia menjadi Tomanurung pertama di Tondong yang mempunyai garis keturunan dengan tomanurung di Ujung Lohe.
TimpaE Tanah membuka tanah, didukung rakyat Tokka dan Kolasa sekaligus menggangkat menjadi raja dengan batas kekuasaan yang cukup jelas. Raja itu kemudian kawin dengan putri Karaeng Ujung Lohe. Hasil perkawinannya melahirkan seorang putri bernama Sappe Ri Bulu dan seorang laki-laki bernama Barubu TanaE. Anak perempuan itu kemudian menggantikan ayahandanya menjadi Raja Tondong sedang Barubu TanaE menjadi Raja pertama di Bulo-Bulo pada 1375 Masehi.
Riwayat Tomanurung di Sinjai, memiliki keunikan jika dibandingkan di tempat lain. Turunan Tomanurung sekaligus menjadi cikal bakal pembentukan kesatuan pemerintahan dari tiga kerajaan yang berkembang di wilayah Sinjai (Tondong, Bulo-BuLdo dan Lamatti).
Persamaan unsur mitos Tomanurung, sehingga dalam perjalanan sejarah selanjutnya menjadi faktor mendasar pembentukan federasi kerajaan. Selain itu faktor kesamaan struktur pemerintahan pun menjadi salah satu alasan mempermudah federasi.
Masing-masing kerajaan, memiliki dua orang gallarang. Kerajaan Tondong (Calla Tokka dan Kolasa), Kerajaan Bulo-Bulo (Saukang dan Samataring), Kerajaan Lamatti (Panreng dan Bongki).
Penamaan Sinjai bermula, ketika Raja Gowa X berkunjung di Kerajaan Tellu LimpoE (Tondong, Bulo-Bolo dan Lamatti) menanyakan berapa jumlah kerajaan yang tergabung dalam Tellu LimpoE. Raja yang tergabung dalam Tellu Limpoe menjawab 9 kerajaan baginda, kemudian menjawab Sanjai Gowa (sama banyaknya di Gowa)dan percakapan itu kemudian penamaan Sanjai mulal dikenal dan melekat pada negeri - negeri di Tellu LimpoE sarnpai hari ini.
Penggunaan nama Sinjai yang meliputi beberapa negeri (kerajaan lokal) selama rentang  abad XVII sampai abad XX  memberi indikasi nama tersebut entah secara mitos maupun dengan fakta sejarah cukup jelas adanya. Perjalanan sejarah lokal mencatat 9 kerajaan yang tercakup dalam negeri Sinjai (Tondong, Budo-Bulo, Lamatti, Manimpahoi, Manipi, Tuningeng, Pao, Suka dan Balasuka).
Tetapi dalam kenyataan hanya tiga kerajaan berpengaruh dan dikenal cukup luas (Tondong, Bulo Bulo dan Lamatti). Tekanan dan ancaman penaklukan dari luar kerajaan,  sehingga ketiga kerajaan itu sepakat menjalin kerjasama dan menandatangam Perjanjian Topekkong, Februari 1564. Federasi tiga kerajaan itu kemudian dikenal dengan Kerajaan Tellu LimpoE (tiga negeri bersaudara). Ringkasan isi perjanjian itu, rakyat Tellu LimpoE hanya satu, mereka bebas memilih pemukiman dan mencari penghidupan yang, membedakan kearah mana hasil padi akan dibawa
Perjanjian yang ditandatangani ketiga raja tersebut bertujuan membentuk persekutuan guna menyatukan kekuatan persatuan dan kesatuan menghadapi pengaruh kekuasaan asing, meningkatkan persatuan dan kesatuan. Kesepakatan tersebut menjadi titik awal menggalang persatuan dan kesatuan seluruh negeri..
Perseteruan kerajaan Gowa dan  Bone memperebutkan daerah taklukan berpengaruh pula kerajaan kecil di sekitarnya.  Perdamaian ditandatangani dalam Perjanjian Caleppa 1565. Dasarnya perjanjian itu rnembagi masing-masing daerah kekuasaan dengan mengambil Sungai Tangka sebagai pembatas.
Sebelah utara masuk kerajaan Bone, sebelah selatan dibawa kerajaan GowaSejak perjanjian itu, Kerajaan Tellu Limpoe masuk Palili Gowa sampai kemudian terlepas setelah Perjanjian Bongaya antara Gowa dan Kompeni Belanda ditandatangani tahun 1667.
Perjanjian Bongaya membawa pengaruh politik bagi kerajaan lokal yang berada dibawah pengaruh kekuasaan Sombaya di Gowa. Kerajaan Tellu Limpoe pun tidak lepas dari pengaruh itu. Kekalahan Kerajaan Gowa, membangkitkan Kerajaan Bone sebagai salah satu kerajaan besar diperhitungkan di Sulsel. Dibawah pemerintah Arung Palakka, hegemoni Kerajaan Bone bukan hanya di Sulawesi Selatan.  Kerajaan Tellu LimpoE pun tidak terlepas dari kenyataan demikian. Namun raja Bone memperlakukan sebagai 'Palili Pasiajingeng' tetap bestatus otonom dan berpemerintahan sendiri.
Sampai kekuasaan kolonial Hindia Belanda berakhir 1942, Kerajaan Tellu LimpoE  dijadikan wilayah pemerintahan langsung (gauvemementslanden) sesuai Surat keputusan Gubemur Sulawesi dan daerah taklukannya 15 November 1861. Wilayah kerajaan itu mendapat sebutan Goster Distriten yang langsung diperintah seorang asisten residen dan dua orang pejabat gezabebber (kontrolir).

Makassar, 10 Februari 2015
Pukul 00:03 wita



Abang Dhio’